Rabu, 03 September 2014

Perusahaan Otobus akan Ditindak Tegas

TERMINAL Lebak Bulus, Jakarta Selatan, yang sejak 6 Januari 2014 ditutup Dinas Perhubungan DKI Jakarta masih saja beroperasi.

Masih banyak perusahan otobus yang melayani trayek antarkota antarprovinsi menggunakan lahan terminal. Padahal, terminal itu sudah tidak layak karena banyak bangunan yang tidak lagi terawat dan sampah menumpuk di berbagai sudut.

Meski dengan kondisi demikian, di dekat pintu keluar telah terbangun gubuk yang dibangun secara swadaya oleh beberapa perusahaan otobus sebagai tempat untuk menjual tiket. Di tempat itu juga terdapat kursi yang memang disediakan untuk berteduh dan menunggu para calon penumpang. Kondisi lebih parah terjadi saat musim Lebaran lalu. Papan pembatas yang menutupi area terminal yang akan digunakan pihak PT Mass Rapid Transit Jakarta dijebol. Akibatnya, banyak bus yang parkir dan memenuhi lahan terminal yang seharusnya tertutup.

Kepala Dinas Perhubungan DKI M Akbar menegaskan bahwa terminal itu seharusnya sudah ditutup. Jika memang ditemukan pihak operator bus yang melanggar dengan menggunakan terminal bertipe B itu, ia akan menindak dengan memberi surat teguran kepada operator.
“Itu sudah jelas ditutup dan sudah siap dibangun PT MRT.

Kalau busnya masih ada, nanti operatornya kami beri surat teguran. Upayanya itu dulu,” kata M Akbar di Balai Kota, Ja karta, awal pekan lalu.

Akbar lebih lanjut mengatakan usaha pencabutan trayek bus-bus jarak jauh berada di bawah kewenangan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan. Oleh sebab itu, pihaknya hanya bisa mengupayakan sebatas pemberian surat teguran dan melaporkan kepada Dirjen Perhubungan Darat.

Namun, Akbar juga menekan kan adanya kerja sama dari pihak PT MRT untuk segera memulai pembangunan Stasiun Lebak Bulus. Sebab menjamurnya kembali busbus jarak jauh di Terminal Le bak Bulus dinilai sebagai akibat kelambanan PT MRT memulai pembangunan di ter minal itu.

“Saya juga berharap ada ke segeraan dari PT MRT untuk membangun ya. Karena kalau dari kami kan sebatas mengupayakan lahan. Terminal sudah kami tutup. Tinggal pihak mereka yang harusnya segera membangun,” ujar Akbar. (Put/J-5) Media Indonesia, 30/08/2014, hal 9